Nganjuk, KabarNganjuk.com – Ribuan warga memadati sepanjang jalur kirab budaya dari Kecamatan Berbek hingga Pendopo KRT Sosro Koesoemo Nganjuk dalam rangkaian Boyong Hambangun Projo dan Sedekah Bumi 2026, Sabtu (6/6/2026).
Kegiatan tahunan yang digelar Pemerintah Kabupaten Nganjuk tersebut menjadi momentum untuk mengenang sejarah perpindahan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk sekaligus melestarikan budaya warisan leluhur.
Kirab menempuh rute sekitar 10 kilometer, dimulai dari Alun-Alun Berbek menuju Taman Nyawiji di Jalan Ahmad Yani sebelum berakhir di Pendopo Kabupaten Nganjuk. Dalam prosesi tersebut turut diarak dua pusaka daerah, yakni Tombak Kyai Jurang Penatas dan Songsong Kyai Tunggul Wulung, serta gunungan hasil bumi dari 20 kecamatan.
Rangkaian kegiatan telah diawali sejak malam sebelumnya dengan prosesi jamasan pusaka di Desa Kacangan, Berbek. Pada hari pelaksanaan, rombongan kirab bergerak menuju pusat kota dengan diiringi kereta kencana, barisan busana adat, pelajar, komunitas seni, unsur Forkopimda, hingga jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi mengatakan, Boyong Hambangun Projo bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan para pendahulu yang telah meletakkan dasar pembangunan Kabupaten Nganjuk.
“Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Melalui Boyong ini kita diajak untuk terus mengingat perjuangan para leluhur sekaligus menjaga budaya yang menjadi identitas Kabupaten Nganjuk. Selain memperingati Boyong dan Sedekah Bumi dari Berbek ke Nganjuk, tanggal 6 Juni juga istimewa karena merupakan hari lahir Bung Karno,” ujar Marhaen.
Menurutnya, peringatan Boyong tahun ini dipadukan dengan tradisi Sedekah Bumi sebagai wujud rasa syukur atas hasil bumi masyarakat sekaligus doa bersama untuk kemajuan dan kesejahteraan Kabupaten Nganjuk.
“Tahun ini peringatan Boyong kami padukan dengan Sedekah Bumi sebagai bentuk rasa syukur sekaligus doa bersama untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Nganjuk,” ujarnya.
Rombongan kirab diawali kereta pembawa pusaka Jurang Penatas dan Tunggul Wulung. Di belakangnya, Bupati Marhaen Djumadi bersama Wakil Bupati Trihandy Cahyo Saputro dan jajaran OPD mengikuti arak-arakan dengan mengenakan pakaian adat.
Setibanya di Pendopo KRT Sosro Koesoemo, digelar serangkaian ritual adat, termasuk prosesi buka lawang sebelum pusaka daerah disemayamkan di pringgitan pendopo.

Sebagai puncak kemeriahan, tumpeng dan gunungan hasil bumi yang telah disiapkan diperebutkan warga. Tradisi yang berlangsung turun-temurun tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas keberkahan hasil panen sekaligus harapan akan keselamatan, kemajuan, dan kesejahteraan bagi Bumi Anjuk Ladang.