Nganjuk, KabarNganjuk.com – Suasana haru menyelimuti kawasan Masjid Agung Kabupaten Nganjuk pada Kamis (23/7/2026). Tangis bahagia pecah saat Muhammad Eka Sandi (37), warga Kelurahan Kauman, Kecamatan Kota Nganjuk, akhirnya kembali ke kampung halaman dan memeluk erat sang ibu setelah menuntaskan perjalanan spiritual menuju Tanah Suci Makkah.
Eka berhasil menyelesaikan aksi jalan kaki dan bersepeda lintas negara selama 18 bulan demi bisa menunaikan ibadah umroh di Makkah Al-Mukarromah.

Perjuangan dan Tekad di Tengah Keterbatasan
Perjalanan spiritual ini awalnya dimulai dari Surabaya. Saat berangkat, Eka tidak sendiri; ia didampingi oleh dua rekan asalnya. Namun, beratnya medan di perjalanan membuat kedua rekannya memilih kembali ke Surabaya.
Meskipun harus melanjutkan langkah seorang diri, tekad Eka tidak surut. Ujian berat kembali menghampirinya saat tiba di wilayah Lampung, di mana sisa uang di sakunya hanya tersisa Rp20.000. Demikian, kebaikan warga di sepanjang jalur yang dilaluinya menjadi penolong hingga ia mampu melanjutkan perjalanan.

“Selama di perjalanan banyak warga yang membantu, baik memberi makan, minum, maupun menyediakan tempat untuk beristirahat,” ujar Eka.
Perjuangan tersebut membuahkan hasil. Setelah melintasi 11 negara dalam kurun waktu 8 bulan perjalanan darat, Eka akhirnya tiba di Makkah dan sukses melangsungkan ibadah umroh.
Melanjutkan Perjalanan Pulang dengan Bersepeda
Usai menuntaskan ibadah di Tanah Suci, Eka memutuskan pulang ke Indonesia melalui jalur udara. Namun, karena keterbatasan dana, tiket pesawat yang sanggup dibelinya hanya sampai di Thailand. Dari Negara Gajah Putih tersebut, ia kembali berjalan kaki menuju Malaysia.
Titik terang kembali menghampirinya saat berada di Malaysia. Eka bertemu dengan seorang dermawan yang membelikannya sebuah sepeda angin. Dengan sepeda tersebut, ia mengayuh pedal melintasi jalur darat hingga akhirnya tiba kembali di Tanah Air.
Kepulangan yang Disambut Haru
Eka resmi memasuki wilayah Kabupaten Nganjuk pada Kamis (23/7/2026) sekitar pukul 10.00 WIB setelah melintasi Kabupaten Madiun. Setibanya di Nganjuk, ia sempat singgah di Masjid Ridho Illahi, Wilangan, untuk beristirahat, makan siang, dan menunaikan sholat Dzuhur.

Di tempat penyinggahan tersebut, Eka disambut oleh pihak keluarga, tetangga, serta komunitas sepeda Nganjuk yang kemudian mengawalnya hingga ke pusat kota. Rombongan pengawalan berakhir di Masjid Agung Nganjuk, tempat di mana Momen pertemuan Eka dan sang ibu diwarnai isak tangis haru dari keluarga dan warga yang menyaksikan.
Saat menceritakan pengalamannya, Eka mengaku bahwa rintangan terbesar yang dihadapi di negeri orang adalah kendala bahasa, kesulitan menemukan tempat beristirahat yang aman, serta memastikan kehalalan makanan yang dikonsumsi. Meski demikian, seluruh rintangan tersebut berhasil ia lalui hingga bisa berkumpul kembali bersama keluarga dengan selamat.





