Nganjuk, KabarNganjuk.com- Tradisi tahunan larung sesaji kembali digelar oleh para pedagang kuliner Kali Baduk. Ritual yang biasanya dilaksanakan setiap bulan Maret, tepatnya pada Selasa Pon, tahun ini harus digeser ke bulan April karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan.
Kegiatan diawali dengan doa bersama yang dilaksanakan di area para pedagang berjualan. Suasana khidmat terasa saat para pedagang memanjatkan doa dan harapan demi kelancaran usaha mereka.
Selanjutnya, para pedagang berbaris sambil membawa berbagai sesaji yang akan dilarung ke Sungai Baduk. Prosesi larung sesaji dipimpin langsung oleh Ketua Paguyuban Pedagang Kuliner Kali Baduk.
Dalam prosesi tersebut, sesaji berupa ingkung ayam, pisang rojo, serta dupa disiapkan sebagai simbol penghormatan sekaligus pengantar doa. Seluruh sesaji kemudian diletakkan di atas rakitan batang pohon pisang agar dapat hanyut mengikuti arus Sungai Baduk.

Ketua Paguyuban Pedagang Kuliner Kali Baduk, Pujianto, menjelaskan bahwa tradisi ini memiliki makna sejarah sekaligus spiritual bagi para pedagang.
“Larung sesaji ini sebenarnya menjadi penanda awal mula dibukanya kuliner Baduk. Jadi ini bukan sekadar tradisi, tapi juga sebagai pengingat bagi kami semua,” ujar Pujianto.
Ia menambahkan, kegiatan ini juga merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki yang telah diberikan kepada para pedagang.
“Kami berharap dengan adanya larung sesaji ini, usaha para pedagang bisa terus lancar, diberikan keberkahan, dan semakin berkembang ke depannya,” imbuhnya.
Menurutnya, tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun sejak tahun 2004 dan terus dilestarikan hingga saat ini sebagai bagian dari budaya lokal.





