Boyong Natapraja dan Sedekah Bumi 2025, Nganjuk Rayakan Warisan Budaya Penuh Makna

Jumat, 13 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nganjuk, KabarNganjuk.com- Pemerintah Kabupaten Nganjuk kembali menggelar prosesi adat Boyong Natapraja dan Sedekah Bumi 2025 dengan penuh khidmat dan kemeriahan. Kegiatan ini menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah penting perpindahan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk yang terjadi pada 6 Juni 1880, sekaligus bentuk rasa syukur atas berkah bumi dan kesejahteraan masyarakat.

Dengan mengusung tema “Notoprojo Bersinergi Membangun Negeri,” prosesi ini dipimpin langsung oleh Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi dan Wakil Bupati Trihandy Cahyo Saputro. Dalam momen sakral tersebut, dua pusaka kebanggaan Kabupaten Nganjuk, Tombak Kiai Jurang Penatas dan Payung Kiai Tunggul Wulung, secara simbolis diserahkan kepada Bupati dan Wakil Bupati. Kedua pusaka itu menjadi lambang kekuatan, kepemimpinan, serta perlindungan terhadap masyarakat dan daerah.

Arak-arakan pusaka dimulai dari titik awal hingga tiba di Pendapa KRT Sosrokoesoemo, menggunakan kereta kuda yang dikawal barisan perangkat daerah, lembaga vertikal, pelajar, pelaku usaha, hingga masyarakat umum. Ribuan warga tumpah ruah di sepanjang jalan, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap warisan budaya yang terus dijaga keberlangsungannya.

Puncak acara ditandai dengan Sedekah Bumi, prosesi adat yang melibatkan 20 gunungan hasil bumi lokal dari seluruh kecamatan se-Kabupaten Nganjuk. Gunungan yang terdiri dari hasil pertanian, buah-buahan, dan aneka palawija ini diarak menuju pendapa dan didoakan bersama sebagai ungkapan syukur atas anugerah alam. Seusai doa, masyarakat beramai-ramai memperebutkan gunungan tersebut, menciptakan suasana semarak penuh kegembiraan dan kebersamaan.

Dalam sambutannya, Bupati Marhaen Djumadi menegaskan bahwa Boyong Natapraja dan Sedekah Bumi bukan sekadar seremoni adat, tetapi bentuk nyata pelestarian nilai-nilai sejarah dan budaya yang menjadi fondasi jati diri Nganjuk.

“Melalui prosesi ini, kita merawat ingatan kolektif sebagai bangsa dan sebagai warga Nganjuk. Kita bangun sinergi antara pemerintah dan masyarakat untuk menjaga warisan leluhur sekaligus mendorong potensi budaya sebagai kekuatan pariwisata daerah,”ungkap Bupati Marhaen.

Acara berlangsung aman, tertib, dan penuh makna. Pemerintah Kabupaten Nganjuk berharap Boyong Natapraja dan Sedekah Bumi dapat terus menjadi agenda budaya tahunan yang memperkuat identitas lokal, serta mempererat rasa cinta masyarakat terhadap tanah kelahirannya.

( red/ gik)

Berita Terkait

Kang Marhaen Paparkan Strategi Perlindungan Perempuan dan Anak di Hadapan KemenPPPA
Operasi Patuh Semeru 2026, Sejumlah Pengendara Terkena Tilang di Jalan A Yani Nganjuk
Pelatihan Digital Career Preparation Hari Ketiga, Pemkab Nganjuk Dorong Pemuda Tembus Pasar Kerja Global
Pemkab Nganjuk Rekonstruksi Jalan Pace–Gondang Sepanjang 495 Meter
Polres Nganjuk Ungkap Tiga Kasus Sabu, Barang Bukti Capai 15,65 Gram
Bupati Marhaen Buka Seminar Nasional KUHP Baru, Tekankan Penegakan Hukum Tegas dan Humanis
Peringati HUT APJI Ke 42 DPC Nganjuk Memperkuat Kelembagaan
Peringati Hari Sumpah Pemuda 2026, 150 Mahasiswa Nganjuk Ikuti Apel Kebangsaan di Polda Jatim

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:12

Kang Marhaen Paparkan Strategi Perlindungan Perempuan dan Anak di Hadapan KemenPPPA

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:22

Operasi Patuh Semeru 2026, Sejumlah Pengendara Terkena Tilang di Jalan A Yani Nganjuk

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:18

Pelatihan Digital Career Preparation Hari Ketiga, Pemkab Nganjuk Dorong Pemuda Tembus Pasar Kerja Global

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:00

Pemkab Nganjuk Rekonstruksi Jalan Pace–Gondang Sepanjang 495 Meter

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:16

Polres Nganjuk Ungkap Tiga Kasus Sabu, Barang Bukti Capai 15,65 Gram

Berita Terbaru