Nganjuk, KabarNganjuk.com – Di tengah gempuran tren digital yang membuat banyak anak muda enggan melirik sektor agraris, seorang pemuda asal Desa Bukur, Kecamatan Patianrowo, Kabupaten Nganjuk, justru membuktikan sebaliknya.
Jovan Pratama, pemilik peternakan Jin Chuan Farm, sukses menjadi potret peternak milenial yang berhasil mengelola bisnis sapi potong secara mandiri berkat ketekunannya memanfaatkan teknologi dan jejaring komunitas.
Mengejutkannya, keahlian Jovan dalam merawat sapi jenis Limosin tidak didapatkan dari bangku sekolah formal. Ia mengaku mengandalkan platform digital dan diskusi kelompok untuk menyerap ilmu dasar peternakan.
“Belajar saya awal mula dari sosial media sosial. Terus lebih mendalam lagi sharing-sharing antar peternak,” ujar Jovan saat menceritakan awal mula perjuangannya membangun Jin Chuan Farm, Senin (25/5/2026) sore.
Langkah Jovan tidak berhenti di media sosial. Demi mematangkan ilmunya, ia bahkan rela melanglang buana ke daerah Kediri untuk menyerap ilmu langsung dari para peternak senior. Komitmennya di dunia peternakan juga dibuktikan dengan bergabungnya Jovan ke dalam wadah resmi berskala nasional.
“Ada (grup peternakan), alhamdulillah saya sebagai anggota APPSI, Asosiasi Peternak Sapi Seluruh Indonesia,” tambahnya dengan nada bangga.
Saat ditanya mengenai tantangan terbesar menjadi peternak di era sekarang, Jovan tidak hanya menunjuk masalah kesehatan hewan seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Baginya, musuh terbesar yang sebenarnya ada di dalam diri generasi muda itu sendiri, yaitu rasa malas.
Selain masalah mentalitas, peternak saat ini juga dihadapkan pada realita ekonomi makro, seperti fluktuasi nilai tukar mata uang asing yang berdampak langsung ke biaya operasional.
“Bahan baku konsentrat kebanyakan dari luar negeri, kayak BKK, DDGS. Terimbas dolar. Itu kan meningkat semua, ya karena dolar naik,” jelas Jovan mengenai kenaikan harga pakan operasionalnya.
Meski biaya produksi membengkak salah satunya harga gamblong (ampas ketela) yang melonjak dua kali lipat dari kisaran Rp25.000 menjadi Rp50.000 per sak Jovan mengaku angin segar masih berembus dari sisi harga jual.
Saat ini, harga sapi hidup di pasaran mengalami kenaikan drastis yang cukup menguntungkan para peternak. Menutup perbincangan, Jovan membagikan prediksi dan kalkulasi harga pasar sapi yang sedang berjalan saat ini dengan penuh optimisme.
“Tahun ini sangat meningkat. Lha sekarang Rp65.000 per kilo loh. Lha tahun lalu mentok Rp60.000 paling bagus itu,” pungkasnya.





