Nganjuk, KabarNganjuk.com – Ratusan warga memadati Pendopo Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, untuk menyaksikan ritual tahunan jamasan pusaka pada Sabtu (11/7/2026). Tradisi yang mengakar kuat di wilayah berjuluk Negeri Ngatas Angin ini menjadi momentum penting dalam menjaga warisan sejarah lokal.
Sebelum ritual pembersihan dimulai, panitia mengawali kegiatan dengan mengarak 10 benda pusaka mengelilingi permukiman warga. Prosesi kirab tersebut sengaja dikemas menarik agar anak-anak muda di Desa Ngetos dapat mengenali dan mencintai peninggalan para leluhur mereka.

Ritual kuno ini sejatinya memuat pesan moral yang mendalam. Kegiatan ini tidak sekadar membersihkan karat atau debu yang menempel pada senjata tradisional, melainkan simbol bagi manusia untuk merenung dan membersihkan jiwa dari segala perilaku buruk.
Aktivis Tosan Aji, Nino Trunojoyo, menyebutkan bahwa ritual ini memiliki esensi yang jauh lebih dalam ketimbang sekadar mencuci barang antik.
“Pencucian pusaka berbeda dengan jamasan pusaka. Kalau jamasan pusaka, kita membersihkan luar dan dalam, yang dimaknai sebagai simbol pembersihan lahir dan batin,” terang Nino.

Sementara itu, sebutan Negeri Ngatas Angin yang melekat pada kawasan Ngetos di lereng Gunung Wilis ini ternyata bukan sekadar nama geografis biasa. Budayawan Nganjuk, Aris Trio Efendi, memaparkan bahwa julukan lawas tersebut merupakan warisan peradaban masa lalu yang sarat akan nilai spiritualitas dan tingkatan kebatinan manusia yang cukup tinggi.
“Ngetos disebut Ngatas Angin karena kata ‘Ngatas’ itu berarti tinggi, sedangkan ‘Angin’ adalah sesuatu yang tidak kelihatan namun nyata adanya. Secara maknawi, Ngatas Angin diartikan sebagai ilmu yang tinggi,” papar Aris.
Melalui pagelaran budaya ini, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penonton, melainkan mampu memetik pelajaran spiritual serta mempraktikkan falsafah ilmu tinggi yang telah diwariskan secara turun-temurun.





