Nganjuk, KabarNganjuk.com – Suasana khusyuk menyelimuti Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hok Yoe Kiong atau Klenteng Sukomoro, Nganjuk, pada Kamis, 21 Mei 2026. Di sela-sela riuhnya penyambutan ritual Thudong, yaitu perjalanan spiritual para Biksu atau Bhante yang berjalan kaki dari Bali menuju Candi Borobudur, tersaji sebuah pemandangan yang menggetarkan hati. Sejumlah relawan berkaos Gusdurian Peduli tampak sibuk dan sigap memijat kaki-kaki yang melepuh, memeriksa denyut nadi, serta memastikan para musafir suci ini tetap dalam kondisi prima.
Bagi para relawan ini, perjalanan ratusan kilometer tersebut adalah panggung nyata dari misi kemanusiaan yang melampaui sekat-sekat perbedaan. Mereka hadir secara khusus untuk mengawal aspek kesehatan para Bhante di sepanjang rute panjang darat tersebut.
“Ini kita mengawal Biksu Thudong, dalam artian kita dari Gusdurian Peduli memang mempunyai misi untuk mengawal dari Bali sampai ke Borobudur, dalam hal medis mereka. Dalam artian, kita sediakan ambulans, rawat, sama yang ngemudi ambulansnya,”ujar Christianto Wibowo, relawan Gusdurian Peduli Lereng Kelud yang didampingi Mas Pecok saat ditemui di Klenteng Sukomoro.
Langkah kaki para Bhante mungkin panjang, namun mereka tidak pernah benar-benar sendirian. Sistem pengawalan medis yang digagas oleh Gusdurian Peduli ini dirancang layaknya sebuah estafet kasih sayang yang tak terputus. Dari ujung timur Pulau Jawa hingga ke jantung Jawa Tengah, jejaring komunitas lokal telah bersiap mengulurkan tangan di setiap titik pemberhentian.
“Betul, jadi mulai pengobatan, misalnya kaki ada yang sobek dan segala macam. Sedangkan di setiap daerah, mulai dari Banyuwangi sampai nanti ke Jogja, Gusdurian-Gusdurian lokal di setiap daerah itu nanti ikut membantu,” kata Christianto menjelaskan bagaimana sinergi medis ini bekerja di lapangan.
Mengobati kaki yang sobek atau meredakan sesak napas akibat cuaca ekstrem hanyalah bagian luar dari tugas mereka. Jauh di dalam lubuk hati para relawan, ada api yang terus menyala untuk merawat warisan pemikiran KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tentang kemanusiaan. Ritual Thudong ini menjadi ruang perjumpaan yang hidup, di mana toleransi dipraktikkan secara membumi.
“Jadi gini, salah satu nilai dari Gusdurian yang kita amalkan itu adanya toleransi, pluralisme. Entah itu suku, agama, atau apa pun, kita enggak mandang itu. Yang jelas, dari sini kita bisa mengenalkan bahwa misi kita itu saling menghargai antar umat beragama,” tegas Christianto mengenai nilai fundamental yang menggerakkan langkah mereka.
Perjalanan panjang yang melelahkan ini pun seketika berubah menjadi pemandangan yang mengharukan saat rombongan memasuki wilayah pemukiman warga. Sepanjang jalur yang dilewati, seperti di kawasan Jombang, lambaian tangan dan senyum hangat dari anak-anak sekolah hingga orang dewasa menyambut kehadiran para Bhante. Euforia spontan dari masyarakat ini menjadi bukti otentik bahwa keramahan Indonesia belum pudar.
“Masyarakat kita itu bener-bener euforianya gede. Jadi memang saya enggak nyangka banget gitu. Selama perjalanan itu disambut mulai dari kanan kiri anak SD, SMP, SMA keluar semua. Rasanya kayak trenyuh gitu. Ternyata walaupun berbeda, tapi kita semua masih bisa saling menghargai,” ungkap Christianto dengan mata berkaca-kaca menahan haru.
Meski rintangan fisik seperti kelelahan akut dan cuaca ekstrem sempat membuat beberapa Bhante drop, kesiapan unit ambulans dan ketulusan para relawan berhasil melewati masa-masa kritis tersebut. Di Klenteng Sukomoro Nganjuk, sejarah kembali mencatat bahwa di atas sepasang kaki yang lelah berjalan demi keyakinan, ada tangan-tangan berbeda iman yang siap membasuh luka dan menguatkan langkah mereka hingga ke tujuan.





