Sunday , January 24 2021
Home / Cerpen / Sepedaku
http://blog.madebyjoanne.com/wp-content/uploads/2016/

Sepedaku

Kumisnya tebal, panjang, dan lebat. Matanya mencureng, saat kacamata hitamnya dibuka. Dengan sebuah pentungan hitam di tangannya membuat yang hadir di sebuah ruang Pos Jaga itu “mendiring”. Aku duduk paling ujung. Nafas dalam dada tergetar keras setelah sepeda yang kutumpanginya kuparkir dibalik pagar kantor tersebut.

“Nama?”, tanyanya sambil memukul lengan kawanku dengan pentungan hitam di tangannya.
“Sungkono,” Jawab kawanku sambil bergetar bibir dan tangannya.
“Rumah?”.
“Desa Cerme Pak, dekat Pak Juwari (pensiunan polisi)”, kata Sungkono lagi.
“Oh…jadi kamu berempat dari Cerme semua?”, tanya petugas berperawakan tinggi besar itu untuk ketiga kalinya dengan memukul paha ketiga kawanku satu per satu.

Aku sendiri luput dari pukulannya karena jarak dudukku paling ujung, jauh dari petugas itu. Di antara mereka aku terlihat paling kecil dan paling kurus. Mungkin karena memang tangannya tidak sampai ke tempat dudukku, atau mungkin memang karena kasihan kepadaku.

Satu per satu ketiga kawanku ditanya sambil dipukuli secara bergantian hingga “mringis” kesakitan. Sungkono, kawanku yang paling tinggi dan besar. Di bawah komandonya kami semua mengikutinya ke mana pun mereka inginkan. Namun malam ini rupanya sial bagi kami.

Jalan yang kami lalui malam ini memang gelap. Tak satu bintang pun muncul malam itu. Yang terlihat sepanjang jalan hanya gelap. Sebelah kanan area persawahan. Begitu pun sebelah kirinya. Kami menuju desa sebelah melalui area sawah sejauh 9 km. Kami berjajar dua-dua. Awalnya biasa-biasa saja. Kami berempat naik sepeda sendiri-sendiri. Sepanjang perjalanan kami bernyanyi riang dengan kerasnya. Hanya satu lagu yang kami nyanyikan berulang-ulang.

“Surabaya…Surabaya…oh Surabaya,
Kota kenangan, kota kenangan tak kan terlupa.
Di sanalah, di sanalah, di Surabaya
Kami berjuang-kami berjuang bertaruh nyawa”.

Begitulah syair bagian depan yang kami nyanyikan. Ketika syair berikutnya, pada referennya, kami bernyanyi sekuat-kuatnya, sambil untuk menghilangkan rasa takut dalam perjalanan kami.

Surabaya, di tahun 45
Kami berjuang, kami berjuang bertaruh nyawa
Kuteringat, masa yang telah lalu
Seribu nyawa seribu insan bersatu padu.

Karena terlalu gelapnya, sepedaku bergeser ke tengah jalan. Juga diikuti oleh Sungkono. Sejauh satu kilo meter kami enjoy-enjoy saja. Kami nikmati perjalanan campur takut itu sambil menyanyikan lagi “Surabaya” itu degan sekeras-kerasnya. Memasuki kilometer ketiga, tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah sepeda motor yang juga berjalan di tengah-tengah jalan.

Memang tidak laju jalannya. Namun sorot cahaya lampunya membuat kami gelap dan tak bisa konsentrasi. Tatkala sedang berpapasan, Sungkono berteriak sekeras-kerasnya “Hoe…, Cuk”. Mendengar terikan yang kuat sekali, pengendara GL 125 hitam itu pun langsung membalikkan kendaraannya dan memotong depan sepedaku. Kami berempat terjatuh semua. “Matamu…”, sambil marah-marah, kami berempat digiring ke sebuah pos jaga di ujung jalan itu.

Kami berempat pelan-pelan sambil menunduk jongkok masuk ke pos jaga tersebut penuh ketakutan. Kami mulai dibentak “Duduk”. Kami duduk dengan gemetar. Posisi diriku paling ujung. Masing-masing pertanyaan diluncurkan terhadap ketiga kawan kami yang kesemuanya berperawakan besar-besar. Kali ini tiba giliranku.
“Nama”
“Luken”, jawabku dengan tegas.
“Kamu tahu, sedang berhadapan dengan siapa Kamu itu?”
Aku tidak menjawab. Yang kutahu, di dinding ruang itu terdapat beberapa pentungan hitam dan beberapa senter merah panjang.

Kulirik di belakang tempat dudukku, pada dinding belakangku terdapat 4 buah senapan. Aku yakin, beliau adalah seorang petugas. Sontak, kami pun menangis semua. “Ampun Pak…ampun Pak…”, kata kami berempat dengan kompak. “Pak, kami salah. Kami manut. Apa kami mau dipenjara sekarang?”, kataku sambil menunduk tak berani menatap wajah Sang Petugas itu.

Semua terdiam. Petugas pun ikut terdiam. Sepuluh menit kemudian, kami diperkenankan pulang. “Baik. Kamu berempat boleh pulang, tapi harus jalan kaki. Sepedamu ditinggal di sini. Besok orang tua kalian biar mengambilnya. Paham?”
“Iya Pak”. Setelah itu kami berempat keluar satu – satu meninggalkan pos jaga itu.
Tak ada kata-kata saling menyalahkan. Kami berjalan pulang sambil meratapi salah kami dalam hati. “Aku kurang hati-hati”.

 

(Gus Luken Sunarto, Juni 2020)

Check Also

Kidung Ke-13

“Candiolo”, istilah Jawa yang hingga kini masih “diugemi” oleh masyarakat seadat di situ. Seperti yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *