Sunday , January 24 2021
Home / Seni Budaya & Pariwisata / Sejarah Kali Brantas Untuk Tapa Ngeli Raja Majapahit 

Sejarah Kali Brantas Untuk Tapa Ngeli Raja Majapahit 

 

A. Tapa Ngeli di Aliran Kali Brantas.

Raja Majapahit sejak jaman Raden Wijaya tahun 1293 selalu menjalankan laku spiritual. Kegiatan ini berlanjut pada masa pemerintahan Prabu Jayanegara, Tri Buana Tungga Dewi dan Prabu Hayamwuruk.

Lebih utama lagi pada masa pemerintahan Sinuwun Prabu Brawijaya V. Upacara sesaji malah dilakukan secara rutin sejak tahun 1467. Bertempat di Hulu Sungai Brantas, kaki gunung Arjuno. Yakni di daerah Sumber Brantas Bumiaji Malang.

Tiap bulan Suro diadakan tirakatan kerajaan Majapahit. Selaku narasumber yaitu yang mulia Empu Tantular dan Empu Prapanca. Pujangga istana Majapahit mbabar wulangan wejangan wedharan. Sejarah leluhur dibahas secara jelas tegas tuntas.

Misalnya tema tentang tata cara meditasi di daerah aliran sungai Brantas. Tapa ngeli di kali Brantas dilakukan oleh para raja Medan, Kahuripan, Kediri, Jenggala, Daha, Singasari dan Majapahit. Dengan tapa ngeli para leluhur Jawa mendapat kasekten, ilmu kanuragan guna kasantikan.

Raja Jawa memang sakti mandraguna karena menjalankan ilmu laku jangka jangkah. Biasa mahas ing ngasepi, manjing wana wasa, Tumuruning jurang terbis. Lenggah saluku tunggal, amepet babahan hawa sanga, sajuga kang sinidhikara.

Ragam semedi dilakukan. Yaitu tapa ngalong, tapa ngidang, tapa ngrame, tapa ngrowot, tapa pendhem, tapa, mutih. Kegiatan para raja Jawa demi mengasah ketajaman spiritual. Murih padanging sasmita.

Kali Brantas berhulu di Kaki Gunung Arjuno. Letaknya di desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kabupaten Malang. Dinamakan Gunung Arjuno, memang untuk menghormati leluhur raja Kediri dan Jenggala.

Lakon Begawan Mayangkara memberi kisah Begawan Anoman di Pertapan Kendali Sada. Anoman bisa menyusul Prabu Rama Wijaya setelah menikahkan wareng Arjuno.

Anoman pada tahun 324 bisa menikahkan tiga cucu wareng Arjuno. Putra Prabu Jayabaya ada tiga. Yaitu Raden Jaya Amijaya raja Jenggala menikah dengan Dewi Pramesthi. Raden Jaya Amisena raja Daha menikah dengan Dewi Pramoni. Raden Jaya Aminata atau Prabu KesumaWicitra raja Pengging menikah dengan Dewi Sesanti.

Raden Arjuno berputra Raden Abimanyu. Lantas menurunkan Prabu Parikesit raja Astina. Prabu Parikesit berputra Prabu Gendrayana. Lalu menurunkan Prabu Yudhayana. Dari Prabu Yudhayana ini berputra Prabu Jaya Purusa atau Prabu Jayabaya.

Bagi penghayat Kejawen Gunung Arjuno dianggap wingit. Begitu pula Kali Brantas yang berhulu dari gunung Arjuno. Sebelum dinobatkan menjadi raja terlebih dulu tapa ngidang di Gunung Arjuno. Tapa ngeli di sepanjang aliran sungai Brantas.

Lelaku tapa ngeli di Kali Brantas dilakukan oleh penguasa Jenggala. Kerajaan Jenggala telah berhasil menata peradaban Jawa. Dalam kurun waktu yang panjang, Kraton Jenggala mewariskan seni edi peni, budaya adi luhung.

Raja Kediri tiap tahun tapa ngeli di Kali Brantas. Prabu Gendrayana memerintah kerajaan Kediri sejak tahun 325. Beliau adalah leluhur raja Jenggala. Nak tumanak run tumurun Prabu Gendrayana menjadi leluhur kerajaan yang sadar arti penting makna trah kusuma rembesing madu.

Aliran kali Brantas meliputi daerah Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, Gresik, Surabaya, Sidoarjo. Mata air dijaga oleh aparat raja. Kerajaan Kediri tampil sebagai negara jaya sejahtera, aman damai, ayem tentrem. Jadilah kerajaan yang panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.

Ekologi kali Brantas dijaga. Air bening mengalir. Etike kepemimpinan yang dipegang teguh oleh Prabu Gendrayana berdasarkan paugeran. Prabu Gendrayana adalah narendra gung binathara mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil paramarta, ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana. Rakyat Kediri yang tinggal di sekitar Gunung Kelud, Gunung Wilis, Gunung Klothok merasa ayem tentrem lahir batin.

Gunung Kelut pun untuk sarana kelsku raja Kediri. Keluhuran kerajaan Kediri terkenal di mana-mana. Pada tahun 357 Prabu Gendrayana lengser keprabon madeg pandhita. Tahta diserahkan kepada ingkang putra Prabu Yudhayana. Seperti sang ayah, Prabu Yudhayana memimpin kerajaan Kediri dengan penuh kebijaksanaan.

Jumenengan Prabu Yudhayana di kerajaan Kediri dihadiri oleh abdi dalem. Mereka berasal dari Ngawi, Nganjuk, Madiun, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Blitar, Jombang, Tulungagung, Mojokerto. Hadir pula segenap bupati pesisir, Bang Wetan dan Bang Kulon.

Terlebih dulu siram jamas di tuk sumber kali Brantas. Semakin hari kerajaan Kediri bertambah arum kuncara ngejayeng jagat raya. Negeri manca sampai kayungyun pepoyaning kautaman. Bebasan kang cerak menglung, kang tebih mentiung. Sami pasok glondhong pengareng-areng, peni-peni raja peni, guru bakal guru dadi, emas picis raja brana.

Daerah Tempuran di Kali Porong dan Kali Mas juga menjadi tempat lelaku. Raja Kediri gemar meditasi. Puncak kejayaan itu membuat bahagia semua pihak. Pada tahun 386 tahta kerajaan Kediri diserahkan kepada putra Yudhayaa. Dia bernama Prabu Jaya Purusa. Sejak muda prabu Jaya Purusa gemar tapa brata ditengah alas gung liwang liwung. Prabu Jaya Purusa sering tapa ngebleng, tapa mutih, tapa ngidang, tapa ngalong, tapa nggantung, tapa pendhem, tapa ngrame.

Gunung Argowayang digunakan untuk manekung. Lantas siram jamas di kali muntung, Kali Kudu, Kali Punjal. Semua kali ini bermuara ke Sungai Brantas. Prabu Jaya Purusa menjadi raja yang sakti mandraguna. Perlindungan pada seluruh rakyat diwujudkan dengan laku prihatin, cegah dhahar lawan guling. Pada tingkat tertentu Prabu Jaya Purusa boleh dikatakan sebagai jalma sulaksana. Waskitha ngerti sakdurunge winarah.

Daya linuwih para raja Kediri yang diperoleh dari lelaku di kali Brantas terbukti nyata. Kediri benar-benar negeri aman damai. Padi, jagung, ketela pohung panen berlimpah ruah. Bahan makanan disimpan di lumbung kerajaan. Kedelai, kacang merupakan tanaman palawija. Sayur kubis, kentang, bayam, kangkung, terong, buncis, godhe, loncang tumbuh di sembarang tempat. Bahan makanan disimpan untuk menghadapi masa paceklik.

Kesaktian raja berpengaruh pada keseimbangan alam. Hama menyingkir jauh, penyakit tak berani menyerang, pageblug hilang sendiri. Itu akibat kesaktian Prabu Jaya Purusa yang bijak bestari. Kawula dan punggawa manunggal cipta rasa karsa. Semua mendukung kepemimpinan Prabu Jaya Purusa. Keamanan dan ketentraman terwujud.

Wajar bila kesaktian Prabu Jaya Purusa dipuji warga. Para abdi nujum dan pujangga istana memberi gelar kehormatan kepada Prabu Jaya Purusa. Dengan sebutan gelar Sinuwun Prabu Jayabaya. Bahkan gelar Jayabaya jauh lebih tenar.

Mateng semedine, manther pamujane. Lara lapa tapa brata sarana pembinaan untuk mengasah ketajaman spiritual. Prabu Jayabaya mendidik tiga putra kinasih. Ketiganya yaitu Raden Jaya Amijaya, Raden Jaya Amisena, Raden Jaya Aminata. Putra raja Kediri ini menjalankan ilmu laku, gentur tapane, mateng semadine.

Raden Jaya Amijaya menikah dengan Dewi Pramesthi. Dinobatkan sebagai raja di Kraton Jenggala. Raden Jaya Amisena menikah dengan Dewi Pramoni. Dinobatkan sebagai raja di Kraton Daha. Raden Jaya Aminata menikah dengan Dewi Susenti. Dinobatkan menjadi raja di Kraton Pengging, bergelar Prabu Kusuma Wicitra tahun 423.

Seperti menjadi adat turun tumurun. Mereka siram jamas di Hulu kali Brantas. Pernikahan para bangsawan ini dilakukan oleh Begawan Mayangkara. Hal ini sesuai dengan pesan Prabu Rama Wijaya kepada Anoman. Yakni kisah perkawinan wareng Arjuna pada jaman Kraton Kediri.

Kerajaan Kediri semakin maju. Muncul pula kerajaan Pengging, Daha dan Jenggala. Masyarakat semakin beradab. Karya sastra berkembang cemerlang. Sastra piwulang ibarat tuk gunung Arjuno yang mengalirkan kejernihan cipta rasa karsa. Raja Majapahit menghayati jasa baik para leluhur.

B. Pembangunan Daerah Aliran Sungai Brantas.

Raja Majapahit berusaha meneruskan tradisi laku tapa ngeli di Kali Brantas. Daerah aliran sungai Brantas seluas 11.800 km2. Aliran utama Kali Brantas sejauh 320 km yang mengintari Gunung Kelut.

Para Raja Majapahit belajar pada kebijakan para leluhur. Contoh Jembatan yang menghubungkan antar wilayah dibangun oleh Prabu Jaya Amijaya. Sarana prasarana dibangun untuk menunjang kegiatan ekonomi masyarakat.

Bangunan jempatan terbuat dari kayu jati terpilih. Logam terdiri dari wesi purosani dan mangangkang. Prabu Jaya Amijaya memerintah Kraton Jenggala tahun 423. Garwa prameswari bernama Dewi Pramesthi yang berasal dari negeri Widarba. Sebagai putra Prabu Jayabaya Raja Kediri, dirinya merasa wajib meneruskan cita-cita orang tua. Inilah prinsip mikul dhuwur mendhem jero.

Air kali Brantas dijaga kelestarian. Kerajaan Jenggala yang beribu kota di tepi Kali Mas Sidoarjo tampil sebagai negeri maritim. Pelayaran, perdagangan, pelabuhan berjalan lancar. Armada laut berdiri kokoh. Pelayaran armada laut Jenggala sampai Asia Selatan, Asia Barat dan Afrika.

Hasil pertanian, perkebunan, peternakan, diparahkan sampai antar benua. Rakyat hidup makmur sejahtera. Mereka cukup sandang pangan papan. Pendidikan berlangsung di seluruh negeri. Tua muda sibuk bekerja. Negara Jenggala memberi prioritas yang memadai buat sekalian warga. Sukses gemilang ini, maka kerajaan Jenggala juga mendapat sebutan negeri Jenggala Manik.

Kebun tebu perlu air dari kali Brantas. Maka dibangun bendungan di Ngrombot Patihanrowo. Kelak pada tahun 1909 berdiri pan gula Lestari. Atas prakarsa Prabu Jaya Amijaya sendiri, pada tahun 463 putranya yang bernama Raden Subrata diwisuda menjadi raja Jenggala Manik. Bergelar Prabu Jaya Angrana atau Prabu Jayengrana. Sedangkan Prabu Jaya Amijaya memilih sebagai pertapa di Lodaya Blitar. Lengser keprabon madeg pandita adalah sikap yang terhormat, agung dan berwibawa.

Wibawa Prabu Jaya Angrana atau Jayengrana dibangun karena prestasi, dedikasi dan kompetisi. Prestasi dalam bidang pemerintahan sangat cemerlang. Dedikasi dipersembahkan buat nusa bangsa. Tenaga pikiran waktu dicurahkan buat kesejahteraan masyarakat. Kompetisi dalam arti positif berkenaan dengan usaha untuk memperoleh keunggulan. Studi banding dilakukan sebagai sarana untuk memacu diri.

Tahun 492 Prabu Jaya Angrana atau Prabu Jayengrana mengundurkan diri secara sukarela. Tiba saatnya beliau untuki mahas ing ngasepi. Berdiam di pertapan untuk mengheningkan cipta. Sambil berolah diri, Begawan Jayengrana Puji Astuti mengembangkan ilmu kebatinan. Cocok dengan wasiat Prabu Jayabaya. Begawan Jayengrana Puji Astuti juga waskitha ngerti sakdurunge winarah.

Anaknya secara otomatis menggantikan kedudukan Prabu Jayengrana. Sejak kecil Raden Subrata diberi ajaran tentang tata praja, diplomasi, pertanian, perkebunan, peternakan, usaha, kemasyarakatan. Ketika sudah dewasa Raden Subrata siap melanjutkan perjuangan Prabu Jayengrana. Raden Subrata dilantik sebagai raja Jenggala, dengan gelar Prabu Amiluhur.

Penobatan Prabu Amiluhur pada tanggal 25 Mei 492. Turut hadir utusan dari Kraton Daha dan Kraton Pengging. Saat jumenengan ini ditetapkan pula posisi Kanjeng Ratu Tejaswara sebagai garwa prameswari. Pasangan Prabu Amiluhur dengan Kanjeng Ratu Tejaswara menjadi idola rakyat Jenggala Manik. Sikap mereka berdua menjadi teladan bagi warga negara.

Kali Brantas, Gunung Arjuno, gunung Kelut dan gunung Argowayang tetap berguna untuk tapa brata. Urutan raja Jenggala yang pernah memerintah dengan penuh kasih sayang. Mereka adalah leluhur para raja Majapahit.

1. Prabu Jaya Amijaya 423 – 463

2. Prabu Jayengrana 463 – 492

3. Prabu Amiluhur 492 – 537

4. Prabu Inu Kertapati 537 – 568

5. Prabu Suryawisesa 568 – 589

6. Prabu Panji Asmara Bangun 589 – 614

7. Prabu Priyambada 614 – 635

8. Prabu Kuda Wisrengga 635 – 672

9. Prabu Wanengpati 672 – 697

10. Prabu Kalana Jayengsari 697 – 725

11. Prabu Dhawuk Marma 725 – 753

12. Prabu Maesa Tandreman 753 – 784

13. Prabu Suryo Hamiluhur 784 – 809

14. Prabu Banjaransari 809 – 840

15. Prabu Lembu Pangarsa 840 – 873

16. Prabu Gondo Kusumo 873 – 897

17. Prabu Jaka Saputra 897 – 926

18. Prabu Candra Kusuma 926 – 935

19. Prabu Darma Kusuma 935 – 948

20. Prabu Darmajaya 948 – 988

21. Prabu Darmawangsa 988 – 1010

22. Prabu Airlangga 1010 – 1042

23. Prabu Samara Wijaya 1042 – 1071

24. Prabu Samara Dahana 1071 – 1098

25. Prabu Samara Wangsa 1098 – 1121

26. Prabu Samara Kusuma 1121 – 1140

27. Prabu Kameswara Jaya 1140 – 1168

28. Prabu Kameswara Citra 1168 – 1187

29. Prabu Kameswara Sigit 1187 – 1199

30. Prabu Kameswara Jajar 1199 – 1220.

31. Prabu Kameswara Dhandhang 1220 – 1236.

32. Prabu Kameswara Susuruh 1236 – 1264
33. Prabu Kameswara Kusuma 1264 – 1293.

Tradisi bersemedi di tengah alas yang sepi tetap lestari. Semangat Kerajaan Jenggala terus berlanjut. Kali Brantas untuk tapa ngeli buat sang narapati.

Kali Brantas sarana meditasi demi ketenangan hati. Kali Brantas juga berguna untuk memutar roda ekonomi. Lalulintas berjalan lancar tuntas karena kenyamanan Kali Brantas.

Sandang pangan lancar karena kali Brantas digunakan untuk sarana transportasi.
Kerajaan Jenggala memang hebat. Putra Prabu Kameswara Kusuma bernama Raden Wijaya. Sejak tahun 1293 mendirikan kerajaan Majapahit. Dari Jenggala berubah menjadi Majapahit. Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Majapahit tahun 1293 – 1309. Penerus kerajaan Jenggala ini bergelar Prabu Kertarajasa atau Sinuwun Prabu Brawijaya I.

Tapa ngeli bagi raja Majapahit adalah sebuah keharusan. Berturut-turut narendra agung kerajaan Majapahit yang berbudi luhur. Mereka adalah pemimpin besar, yang berhasil mengangkat harkat martabat rakyat.

1. Raden Wijaya atau Brawijaya I 1293 – 1309.

2. Jayanegara atau Brawijaya II 1309 – 1328.

3. Tri Buana Tungga Dewi 1328 – 1350.

4. Hayamwuruk atau Brawijaya III 1350 – 1389.

5. Kusuma Wardhani Wikrama Wardana 1389 – 1400.

6. Dewi Suhita 1400 – 1427.

7. Kertawijaya atau Brawijaya IV 1427 – 1438 .

8. Ratu Kencono Wungu 1438 – 1457.

9. Kertabumi atau Brawijaya V 1457 – 1478.

Kesadaran mengelola daerah aliran sungai Brantas ini diwariskan untuk mengelola bengawan Solo. Saat Demak, Pajang Mataram berkuasa ilmu kali Brantas ternyata sangat berguna.

Sinuwun Prabu Brawijaya V raja yang sakti mandraguna. Putranya adalah para penguasa kerajaan di Jawa selanjutnya. Permaisuri berjumlah 3 orang yakni Ratu Cempa, Ratu Dworowati dan Ratu Wandan Kuning.

Ratu Cempa melahirkan Raden Patah yang menjadi raja Demak Bintara. Ratu Dworowati nanti menurunkan Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya raja Pajang. Ratu Wandan Kuning kelak memunculkan Panembahan Senapati raja Mataram. Ketiga garwa prameswari Prabu Brawijaya V memang trahing kusuma rembesing madu.

Kraton Jenggala menurunkan raja-raja Jawa. Dari Majapahit ke Demak, Pajang, Mataram, Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran dan Paku Alaman. Dinasti kerajaan membawa visi misi peradaban. Kraton Jenggala Manik mengalirkan nilai keutamaan, keteladanan, keluhuran, kebajikan, kepahlawanan, keagungan, kebangsaan.

Dalam sejarahnya Karaton Jenggala memberi inspirasi bagi para raja Jawa. Agar selalu berpegang teguh pada ajaran leluhur. Yakni ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana.

Air kali Brantas dikelola dengan baik. Pada tahun 1298 Raden Wijaya datang di sekitar Gunung Kelut. Bendungan dibangun di daerah Blitar untuk mengairi persawahan. Padi tela jagung tumbuh ngrembuyung.

Tahun 1318 Prabu Jayanegara raja Majapahit datang di Kediri. Beliau meresmikan jembatan daha. Jembatan ini memperlancar sistem transportasi dari daerah Kediri ke daerah Tulungagung.

Jembatan Kali Brantas Kertosono dibangun tahun 1342 oleh Prabu Putri Tri Buana Tungga Dewi Jaya Wisnu Murti. Raja Majapahit ini peduli pada kebutuhan warga Nganjuk dan Jombang. Maka ada humor Pak Kerto tuku kertu lewat kertek mudhun Kertosono.

Prabu Hayamwuruk membangun sarana irigasi untuk daerah Mojokerto tahun 1357. Pengairan Kali Brantas diatur dengan rapi. Maka raja Majapahit mengangkat pejabat Jogotirto.

Demikian pula Prabu Brawijaya V amat perhatian pada daerah aliran sungai Brantas. Pada tahun 1468 Kerajaan Majapahit membangun sendang patirtan. Air kali Brantas untuk budidaya perikanan darat.

Ikan mujahir, nila, tawes, tumbra, bader, lele, kocolan, welut, tengiri, gabus dipelihara rakyat Majapahit. Penghasilan masyarakat maju berlipat ganda. Kali Brantas dikelola oleh Kerajaan Majapahit untuk meningkatkan kesejahteraan.

 

(Dr. Purwadi, M.Hum. Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA)

Check Also

Kisah Goa Lowo, Petilasan Angkling Darmo Hingga Makam Pangeran Alif

Ngluyu, KabarNganjuk.com- Goa Margotrisno atau Goa Lowo yang terletak di Desa Sugihwaras Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *