Wednesday , October 21 2020
Home / Pendidikan / Pengawasan Belajar Di Era New Normal
Sunarto, M.Pd

Pengawasan Belajar Di Era New Normal

Nganjuk, KabarNganjuk.com- Pengawas sekolah adalah bagian dari subsistem pendidikan nasional yang peran dan tanggung jawabnya sesuai dengan tugas pokok serta fungsi sebagai pengawas satuan pendidikan di lingkungan Dinas Pendidikan yang masing-masing kabupaten/kota.

Salah satu tugasnya yaitu membina pengelolaan pembelajaran di sekolah binaannya, membina manajemen sekolah dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi program kerja sekolah agar sekolah dapat mewujudkan visi, misi, dan tujuannya secara maksimal.

Era PANDEMI Covid-19 memaksa semua aktivitas dilakukan di rumah, termasuk proses belajar mengajar. Guru mengajar dari rumah, siswa belajar di rumah, kegiatan inilah sudah dijalani setidaknya dalam bulan-bulan terakhir pada tahun ini.

Bukan hal yang mudah untuk beradaptasi, hampir setiap orang memulainya dengan kendala hingga berangsur-angsur terbiasa, bagi kebanyakan anak kegiatan belajar daring ini sudah menjadi kegiatan sehari-hari di masa pandemi. Begitu pula guru yang awalnya gagap teknologi dipaksa cepat menyesuaikan diri dengan beragam aplikasi, membuat video-video pembelajaran dan kegiatan lain untuk membangun kedekatan dengan muridnya yang berada di rumah masing-masing.

Peran Guru di Era New Normal
Guru saat ini tidak hanya belajar bagaimana mengajar, tetapi terdapat tugas baru yang menjadikan guru sebagai wadah, fasilitas, bahkan pelatih bagi para siswa. Kalau dulu datang ke kelas, guru menjelaskan materi yang ada dan tinggal dibahas. Hari ini guru mengalami perubahan peran yang memerlukan sikap dan upaya baru dalam menjalankan metode pembelajaran.

Peran guru sudah tidak bisa lagi untuk menilai kualitas siswa berdasarkan satu kelas, melainkan penilaian harus diperhatikan mulai satu persatu peserta didik. Untuk guru menggali potensi siswa, termasuk potensi terhadap teknologi. Kegiatan pada proses pendidikan harus lebih banyak memberikan praktek-praktek kepada para siswa secara langsung dan menilai secara kompetensi berpatokan kepada nilai.

Di samping itu, mempersiapkan bahan ajar dan tutorial pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) bisa dilakukan melalui daring (dalam jaringan) dan luring (luar jaringan). Pembelajaran daring sudah lama dilakukan oleh beberapa perguruan tinggi, terutama Universitas Terbuka. Jika didesain dengan benar dan terencana, pembelajaran daring tetap bermutu. Adaptasi ini harus dilakukan untuk tetap memberikan hak pendidikan.

Total belajar mandiri tidak dapat berjalan dengan sempurna, pasalnya literasi masyarakat kita yang masih rendah, sehingga kehadiran guru jelas tidak bisa digantikan oleh mesin apapun, perannya akan selalu hadir dan dibutuhkan, meski sarana dan bahan belajar saat ini sudah melimpah di dunia maya (internet). Dengan demikian, proses belajar dari rumah tetap membutuhkan keaktifan guru agar masa belajar menjadi efektif, guru harus kreatif dan berinovasi walau di sana-sini banyak kekuarangannya.

Menghadapi awal tahun pelajaran baru (2020/2021) ini, seharusnya pemerintah daerah perlu mempersiapkan guru yang terampil mendesain pembelajaran daring dan luring. Misalnya, pilih beberapa guru berprestasi untuk mempersiapkan bahan ajar yang siap digunakan oleh semua guru dalam pembelajaran daring, seperti video pembelajaran, latihan dan soal-soal pembelajaran daring yang disertai dengan tutorialnya.

Hal ini bisa dilakukan melalui forum KKG maupun MGMP pada mata pelajran masing-masing. Sedangkan pembelajaran luring, guru pilihan tersebut dilatih menyusun modul sebagai bahan ajar dalam sistem pembelajaran modul yang diberikan ke setiap peserta didik yang tidak bisa mengakses internet. Meskipun pendidik dan peserta didik tidak bisa bertatap muka secara langsung, tetapi pendidikan karakter tetap bisa dilakukan. Guru memberikan penugasan-penugasan praktik baik (good habit) untuk dilakukan peserta didik dalam pengawasan orang tua. Misalnya, membuat buku agenda harian ibadah dan karakter.

Pendidikan Karakter
Kegiatan pendidikan karakter di masa “New Normal” ini bisa dilakukan dengan menugasi peserta didik untuk mendirikan shalat fardhu berjamaah, shalat sunnat (rawatib, dhuha, qiyamul lail), tilawah Alquran, dan sebagianya, sebagai penanaman karakter religius dan sikap spiritual.

Sementara sikap sosial bisa ditugaskan dengan sedekah/infaq harian, membantu orang tua, seperti: membersihkan rumah, membersihkan tempat tidur, dan sebagainya. Penugasan itu dilaporkan kepada guru kelas tingkat SD atau guru tiap kelompok di tingkat SMP/MTs dan SMA/SMK/MA untuk diperiksa dan ditindaklanjuti secara berkala.

Pada masa ini, peran orangtua harus menjadi guru terbaik dalam keluarga dengan tetap memberikan pengawasan dan motivasi pada anaknya untuk belajar sebagaimana yang ditugaskan oleh sekolah. Orangtua harus menjadi teladan dalam mempratikkan perilaku positif dan melibatkan anak-anaknya. Karena itu, komunikasi sekolah dan orangtua harus dilakukan secara intens. Begitu juga pemerintah dan tokoh masyarakat, mendorong orang tua untuk mengoptimalkan kepeduliannya terhadap pendidikan anak.

Hanya saja, tidak semua orangtua memiliki kesiapan untuk mengawasi dan mendorong anak-anaknya belajar di rumah. Kondisi ini menjadi catatan penting bagi orangtua, pemerintah, sekolah, praktisi pendidikan dan masyarakat luas yang selama ini lebih mengkonsentrasikan persoalan pendidikan di jalur formal. Ke depan, pemerintah harus mempersiapkan pembinaan terhadap orangtua agar optimal berperan dalam keluarga.

Sebenarnya, pada sebelum masa pendemi, Kemendikbud telah mengeluarkan Permendikbud Nomor 30 Tahun 2017 tentang Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan. Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa implementasi regulasi tersebut masih kurang perhatian (Muhammad Kosim, dkk, 2018).

Karena itu, pembinaan keluarga agar lebih sadar dan optimal terlibat mendidik anak di rumah, harus dilakukan secara simultan. Bantuan pemerintah untuk pembelajaran daring. Di antara keluhan orang tua dan masyarakat yang sering disuarakan adalah mahalnya biaya belajar daring, terutama membeli paket internet.

Seharusnya keluhan dan jeritan masyarakat ini direspons cepat oleh pemerintah. Sekolah memang dibolehkan untuk menggunakan dana BOS untuk pembiayaan belajar daring. Seperti penjelasan Mendikbud, BOS dapat digunakan untuk pembelian pulsa, paket data, dan/atau layanan pendidikan daring berbayar bagi pendidik dan/atau peserta didik dalam rangka pelaksanaan pembelajaran dari rumah. Namun dana tersebut tentulah terbatas.

Aktivitas Pengawas Sekolah di Masa New Normal
Seperti diketahui bersama, pada situasi normal tugas pengawas sekolah tidaklah semudah yang dibayangkan. Melaksanakan tugas pokok kepengawasan dengan kompetensi yang dimiliki memang sudah menjadi kebiasaan seorang pengawas.

Pada situasi “Covid — 19“ pengawas sekolah segera menyesuaikan tugasnya, yakni dengan mengubah pola kerja pengawas sekolah. Selanjutnya peran pengawas di masa “New Normal” setidaknya melakukan tiga kegiatan, diantara nya: (1) menerapkan pola pikir baru, (2) mendorong Kepala Sekolah, guru, dan para siswa binaannya ke arah kebiasaan baru, dan (3) memaksimalkan penggunaan ICT pada sekolah-sekolah yang menadi binaannya.

Sehubungan dengan kegiatan di masa “New Normal”, maka perlu adanya pengawas sekolah yang “benar-benar” professional, bertanggung jawab, tangguh, dan berkarakter. Pengawas yang profesional memiliki ciri : (1) mampu bersaing dalam kompetensi yang dibutuhkan, (2) mahir dalam ber-ICT, (3) mampu bekerja sesuai tupoksinya, dan (4) selalu memperhatikan prinsip pengembangan diri pada dirinya sendiri.
Pengawas yang tangguh memiliki ciri : (1) harus kuat jasmani dan rohani; (2) tabah (sabar dalam menjalankan tugas kepengawasan; (3) handal (mampu menguasai bidang kepengawasan); dan (4) kukuh (memiliki pendirian yang kuat dalam menjalankan tugas kepengawasannya). Sedangkan pengawas yang berkarakter, dalam kegiatan kepengawasannya selalu berorientasi pada prinsip-prinsip religiusitas, nasionalisme, kemandirian, dan integritas yang tinggi, serta gotong royong.

Sehubungan dengan ciri-ciri seorang pengawas pendidikan di atas, maka pada masa “New Normal” yang secara kebetulan telah memasuki tahun pelajaran baru (2020/2021) maka seorang pengawas harus benar-benar mahir dalam menguasai beberapa “Aplikasi Online Learning”.

Pelaksanaan aplikasi “Online Learning” ini bisa melalui WhatsApp, Cisco Webex meetings, ZOHO Forms, Zoom, Geogle Classrom, Google Forms, JotForm, maupun Office 265. Jika seorag pengawas telah menguasai beberapa/semua aplikasi tersebut, selanjutnya segala jenis kegiatan pengawas 85% harus dilaksanakan dengan jarak jauh.

Pada masa ini pengawas sekolah harus memprogam beberapa aplikasi tersebut baik di laptob maupun di HP ataupun steps yang dimilikinya. Secara rinci kegiatannya: (1) membentuk Whatsapp Group (untuk 10 — 20 sekolah binaan); (2) Drive (untuk data-data sekolah binaan); (3) Webex Zoom Teams (online meeting); Online Training (untuk absensi Online dan penilaian online); Google Classroom, classnote Book (online learning); dan Monev lewat ZohoForms (pelaksanaan online learning).

Akhirnya, selama masa “New Normal” di awal tahun pelajaran ini, pengawas sekolah harus menyelenggarakan kegiatan bimbingan dan pelatihan “Daring” kepada para kepala sekolah dan guru-guru yang menjadi binaannya. Kegiatan yang harus dilalui antara lain: (1) sosialisasi Daring KS dan Guru; (2) Bimlat Daring 1; (3) Bimlat Daring 2; (4) Bimlat Daring 3; dan (5) Monetoring dan Evaluasi. Dengan terselenggaranya kegiatan-kegiatan daring oleh pengawas pendidikan tersebut, maka bisa diharapkan keinginan Mas Menteri Pendidikan tentang “Merdeka Belajar” benar-benar bisa tercapai sesuai harapan.

SUNARTO, M.Pd.
(Cawas SMP di Nganjuk- Pengurus ABGSI Jatim)

Check Also

Tahun Ajaran Baru 2020-2021, MPLS Dilakukan Secara Online

Nganjuk, KabarNganjuk.com- Ditengah pandemi Covid-19 membuat para pelajar harus melakukan segala pembelajaran secara online, apalagi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *