Wednesday , January 20 2021
Home / Cerpen / Mak Dheg E

Mak Dheg E

Hampir 30 menit, Bu Anti masih asyik dengan denga pekerjaannya sendiri, mengoreksi tugas-tugas siswa yang diampunya. Pandangannya tertegun pada beberapa kertas pekerjaan siswa di hadapannya.

Hanya sesekali melirik kawan-kawannya yang berlalu lalang di samping meja kursi di sekitar tempat ia berada. Nafasnya sesekali melengus panjang saat tertuju pada salah satu garapan siswa yang tulisannya tidak begitu jelas terbaca. Hanya terucap dalam hati “anak e sopo ki…”

Duduk di sampingnya adalah seorang Begawan Bahasa yang juga sedang menitik daftar nama-nama siswa yang telah mengumpulkan tugas padanya. Sesekali mereka saling pandang dan tersenyum atas kesamaan garapan mereka pagi itu. Mereka beda jauh dalam segala hal. Namun dalam situasi ini, mereka adalah satu tim “sesame guru”.

Sebelumnya mereka saling tukar-menukar pengalamannya masing-masing setiap kali menjadi nara sumber pada mata pelajaran yang sama dalam kegiatan daring saat ini. Tak terbayang dalam benaknya untuk saling berbagi rasa jauh ke dunia fantasi. Mereka memang ada batas yang tak terucap nilainya. Namun tetap ada kesamaan dalam pilihan materi yang diampunya saat ini.

Sesekali mereka tertawa sendirian karena apa yang dihadapinya menemui hal-hal yang menarik pada masing-masing bacaan di depannya. Hingga pada suatu ketika seorang perempuan cantik mendekat ke sampingnya dan berbisik “agak keras” di telinganya, “Biyuh….Anti Rek, mboso oleh konco anyar leh ngguethu”. “Mak dheg e” hati Wati langsung bagai tertusuk duri yang amat dalam.

Diliriknya oleh Sang Begawan, mukanya pucat bagai habis tersiram air panas. Maklum, baru kali ini mungkin dia mendengar kata-kata sepedas itu. “Kasihan…”, kata Sang Begawan dalam hati. “Semoga dia tetap semangat”, lanjutnya.

“Ambyar. Koreksi saat itu langsung segera diakhiri oleh masing-masing pihak. Sementara di luar sana seorang pria tua sedang menawarkan dagangannya berupa macam-macam baju perempuan dan celana pendek laki-laki. Sang Begawan menuju kursi duduk di luar ruang untuk melihat dagangan pak tua itu.

Spontan, Sang Begawan bertanya, “Daster ini tak ada yang lebih “mbluweh” kerahnya Pak?, katanya. Seorang perempuan bertanya, “Biar apa Pak?” “Kalau yang lebih “mbluweh” itu lebih mudah membukanya,” kataku. “Gerrrrrr” kata para perempuan di samping Sang Begawan itu. “Hadech…atine”, batin Sang Begawan.

(Gus Luken Sunarto)

Check Also

Kidung Ke-13

“Candiolo”, istilah Jawa yang hingga kini masih “diugemi” oleh masyarakat seadat di situ. Seperti yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *