Friday , March 5 2021
Home / Pendidikan / GERAKAN MENGATASI LEARNING LOSS

GERAKAN MENGATASI LEARNING LOSS

(Gus Luken Sunarto — Ketua GPMB kabupaten Nganjuk)

Belajar online atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat pandemi COVID-19 di Indonesia telah berlangsung hampir setahun, yakni sekitar 11 bulan. Kita menjadi akrab dengan situasi yang tidak biasa, termasuk pembelajaran jarak jauh. Guru-guru harus mengendalikan pembelajaran dari rumah atau sekolah menggunakan perangkat teknologi dan internet. Rupanya, banyak guru yang mudah beradaptasi dengan aktifitas ini. Sebagian lagi, sebut saja guru-guru senior, harus ada ekstra-adaptasi.

Nampaknya, semua berjalan normal. Pandemi mengajak pelaku pendidikan berubah haluan untuk tetap memastikan pembelajaran tidak terputus. Selama pembelajaran jarak jauh, banyak platform pembelajaran daring digunakan, bahkan direkomendasikan oleh pemerintah sebagai platform rujukan. Diantaranya ada Google Classroom, Ruangguru, Rumah Belajar, dan platform lain.

Terlepas bahwa pembelajaran jarak jauh mengalami kendala, seperti tidak semua anak mempunyai gawai dan disparitas jangkauan internet, pembelajaran jarak jauh tak bisa dihindari. Apakah pelaku pendidikan juga sudah memikirkan bagaimana anak-anak merasakan kejenuhan belajar di rumah?. Atau bagaimana kondisi anak yang tidak memiliki perangkat internet atau HP, tentunya ini juga sebuah permasalahan yang layak diselesaikan.

Sejalan dengan kondisi di atas pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di Jakarta, melakukan survei kepada sekolah terkait potensi learning loss atau kehilangan kompetensi belajar siswa akibat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Hasilnya terdapat 20 persen sekolah secara nasional menyatakan sebagian siswa tidak memenuhi kompetensi atau mengalami learning loss.

“Ada 20 persen sekolah mengatakan sebagian siswa tidak memenuhi standar kompetensi. 20 persen inilah yang diduga mengalami learning loss yang paling besar hanya 20 persen,” ujar Plt. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Kabalitbangbuk) Kemendikbud, Totok Suprayitno dalam Rapat Dengar Pendapat Umum Komisi X DPR yang digelar daring, (Kamis, 21 Januari 2021. Ilham Pratama Putra).

Learning loss adalah hilangnya minat belajar pada pelajar, karena berkurangnya intensitas interaksi dengan guru saat proses pembelajaran. Indra (Jan, 2021) menjelaskan, jika menggunakan definisi yang dipakai di luar negeri, learning loss diartikan sebagai fenomena yang terjadi pada anak-anak dari golongan ekonomi menengah ke bawah yang memang tidak punya kemampuan untuk menggunakan dan mengakses gawai dan internet untuk belajar.

Dari semua upaya untuk memastikan keberlangsungan pembelajaran, (UPJJ) sepertinya masih ada yang terlewatkan. Kegiatan membaca bagi anak-anak di rumah masih terabaikan. Platform-platform yang muncul masih menunjukkan dominasi terhadap aktivitas belajar-mengajar formal. Membaca, khususnya membaca buku-buku fiksi, belum menjadi agenda kegiatan anak, terlebih saat kita tanpa henti berbicara tentang literasi.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadim Makarim, (Jakarta, CNN Indonesia, Januari 2021) mendorong pemerintah daerah segera membuka pembelajaran tatap muka di sekolah. Nadiem khawatir terjadi learning loss pada peserta didik. Learning loss adalah fenomena di mana sebuah generasi kehilangan kesempatan menambah ilmu karena ada penundaan proses belajar mengajar.

Nadiem menilai learning loss sulit dihindari dalam kondisi pandemi. Karenanya, Kemendikbud menggencarkan penerapan PJJ selama para murid harus belajar di rumah. Pemerintah mulai melonggarkan kebijakan itu pada 1 Januari 2021. Pihak sekolah dan pemerintah daerah diperbolehkan menggelar proses belajar mengajar secara tatap muka dengan sejumlah pembatasan.

Karena itulah, sebagai upaya tindak lanjut dari pihak Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dalam rangka mengatasi terjadinya learning loss perlulah kiranya sekolah-sekolah melaalui koordinasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di tngkat Kabupaten menempuh hal-hal sebagai berikut:

Mendengungkan dan mengajak kembali Gerakan Literasi
Selama ini di sekolah, tidak ada figur yang memberi contoh sebagai pembaca buku atau menaruh perhatian pada pengelolaan perpustakaan sekolah. Bahkan, aturan pembelian buku fiksi dari dana BOS tidak menjadi perhatian sekolah. Buku-buku yang dibeli hanya buku teks pelajaran dan buku-buku pengayaan pelajaran. Sekolah juga lebih risau jika sekolahnya tidak punya AC daripada tidak miliki buku-buku cerita anak yang berkualitas.

Sekolah risih tidak ada tukang kebersihan daripada tidak ada petugas perpustakaan. Sekolah berambisi menang lomba perpustakaan yang penilaiannya administratif daripada memenangkan hati anak-anak untuk bisa menikmati dan meminjam buku carita dari perpustakaan sekolah.

Di saat pandemi ini, ajakan membaca tak pernah terdengar. Pemerintah begitu cemas jika terjadi loss learning. Dan, itu juga kiranya, bahwa wacana membuka sekolah begitu kuat. Namun, kegelisahan pada tingkat literasi yang rendah tak muncul. Anak-anak perlu belajar untuk memastikan mereka berpengetahuan mumpuni. Jangan lupa bahwa anak-anak butuh kesenangan dan memiliki quality time yang bisa diisi dengan membaca buku-buku fiksi. Tanpa adanya minat membaca yang baik, pengetahuan tidak mungkin dikuasai dengan baik. Minat membaca bisa diawali dengan membaca untuk kesenangan (reading for enjoyment).

Maka, jangan salahkan anak karena tidak membaca. Mereka sebenarnya suka membaca. Masalahnya, kita yang tergila-gila pada persekolahan masih merasa bahwa belajar itu mengoleksi pengetahuan dan pengetahuan tidak diperoleh di buku cerita. Kebijakan yang ada adalah kebijakan belajar dari buku yang berorientasi pada kurikulum. Sebenarnya, di situ pula learning loss terjadi, saat minat membaca anak kurang mendapat tempat.
Sebab itu, gerakan mendengungkan dan mengajak siswa untuk berliterasi sangatlah penting untuk saat ini dan seterusnya.

Gerakan Kreativitas Guru
Jika kegiatan membaca tidak mengemuka selama pandemi, ini membuktikan bahwa kepedulian terhadap membaca memang tidak dimiliki siapapun di negeri ini. Membaca dianggap kurang bermanfaat. Budaya membaca dianggap budaya elitis padahal ini seharusnya menjadi milik siapapun. Isu literasi rendah berhenti di pidato-pidato dan obrolan-obrolan kantoran.

Tak heran, jika keleluasaan waktu anak selama pandemi tidak menggerakkan kita untuk mengambil momentum ini untuk menumbuhkan minat baca anak. Sudah kita ketahui bahwa cara kerja di sekolah sangat hirarkis dengan mengikuti instruksi dari pemerintah. Jika selama pandemi sekolah diharapkan menjalankan kegiatan belajar jarak jauh, tak sulit bagi sekolah mengiyakan instruksi tersebut. Jika terselip ajakan membaca, barangkali sekolah akan melakukan. Untuk itu dia meminta guru agar terus berinovasi. Memberikan pembelajaran yang kreatif agar mampu diserap siswa.  “Adaptasi oleh guru harus lebih luas,” ungkapnya.

3. Guru bisa memanfaatkan kurikulum darurat.
Guru bisa menciptakan pembelajaran dengan konsep yang merdeka dan menghadirkan pembelajaran yang esensial.  Dengan variasi mengajar dari kurikulum darurat dengan konsep merdeka belajar tentu tidak menjadi kerangkeng. Tapi menjadi kerangka untuk pembelajaran yang bervariasi. Hal-hal yang telah diperoleh melalui forum KKG maupun MGMP haruslah disampaikan dan ditindaklanjuti semua guru yang ada di sekolah. Ini menjadi kewajiban peserta KKG atau MGMP sekolah.

Melakukan/ membuka proses belajar mengajar secara tatap muka dengan sejumlah pembatasan di sekolah
Sekolah-sekolah tertentu yang berada di zona hijau atau kuning bisa saja menyuruh anak-anak datang tiap minggu untuk mengumpulkan tugas dan bertemu guru untuk mendapatkan proyek kegiatan selama seminggu ke depan. Kebijakan di atas bisa dilakukan untuk sekolah yang tidak memungkinkan melakukan pembelajaran daring.  Keadaan tertentu yang mana anak-anak tidak mendapatkan dukungan instrumen memadai (gawai dan jaringan internet) menggugah sekolah melakukan cara tersebut. Kebijakan tersebut juga hendaknya diberlakukan bagi sekolah-sekolah secara lebih serius. Hasilnya akan tampak dengan sendirinya pada siswa-siswa kita. Semua itu dilakukan agar tidak ada learning loss.

(Gus Luken, Maret, 2021)

Check Also

Gelorakan Semangat Literasi, Sunarto Serahkan 15 Buku Ke Perpusda Nganjuk

Nganjuk, KabarNganjuk.com- Pemerintah Daerah Kabupaten Nganjuk terus melakukan upaya untuk kembali menggelorakan semangat literasi khususnya kepada …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *