Wednesday , October 21 2020
Home / Politik & Pemerintahan / Diskusi Kabar Nganjuk, Refleksi Hari Kelahiran Pancasila [bag. 1]

Diskusi Kabar Nganjuk, Refleksi Hari Kelahiran Pancasila [bag. 1]

*Pancasila Digali Dari Nilai-Nilai Yang Sudah Lama Berkembang Di Nusantara

Memperingati hari lahir Pancasila 1 Juni 1945, KabarNganjuk.com, menggelar diskusi terbatas dengan menghadirkan tiga orang narasumber, masing-masing Ketua DPRD Nganjuk Tatit Heru Tjahjono, praktisi hukum Bambang Sukoco SH, MH dan mantan aktivis organisasi Pemuda Demokrat Jawa Timur Totok Budi Hartono SH. Diskusi dipandu mantan wartawan Republika, Juwair.

Diskusi yang berlangsung sekitar dua jam itu berhasil menggali akar sejarah kelahiran Pancasila dan penerapanya dalam sejarah perjalanan bangsa, mulai dari zaman awal kemerdekaan hingga zaman sekarang. Ketiga narasumber sepakat, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bisa tegak berdiri hingga sekarang, karena mempunyai dasar Pancasila.

Meski dalam perjalanan sejarahnya NKRI mengalami banyak gangguan dan pemberontakan, mulai dari pemberontakan PKI Madiun, G 30/SPKI, pemberontaan DI TII, pemberontakan Permesta, serta terjadinya transisi dari pemerintahan otoriter ke demokrasi 1998. Dengan sila ketiga dari Pancasila, Persatuan Indonesia, Indonesia selamat dari ancaman perpecahan.

Bung Karno, dalam buku karya Cyndi Adam, yang berjudul Bung Karno Peyambung Lidah Rakyat Indonesia, menyatakan, ada lima nilai yang berkembang di nusantara. Lima nilai itu tidak bisa dipisahkan dan saling mengisi satu sama lain. Kelimanya adalah Nasionalisme, Internasionalisme, Demokrasi, Keadilan Sosial dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sebelum menyampaikan pidato tanggal 1 Juni 1945 di depan sidang BPUPKI, Bung Karno mengaku, pada tengah malam sebelumya, ia keluar rumah dan memandang ke langit, memohon pentunjuk dan berdoa kepada Tuhan, mengenai dasar negara saat Indonesia merdeka nanti.

“Di malam sebelum aku berbicara aku ke luar ke pekarangan rumah kami. Seorang diri. Dan menengadah memandang bintang-bintang di langit. Aku kagum akan kesempurnaan ciptaanya. Aku menatap perlahan dalam hatiku. Kepada Tuhan aku sampaikan, aku menangis dalam dadaku karena besuk aku akan menghadapi detik detik dalam sejarah hidupku, dan aku memerlukan bantuanMu,“ ujar Bung Karno sebagaimana yang ditulis Cindy Adam.

Awalnya, lima sila itu, Bung Karno menamai Panca Darma. Namun setelah merenung, akhinya pada saat pidato tanggal 1 Juni 1945, ia memberi nama Pancasila. Selain Bung Karno, dalam sidang BPUPKI, Mohamad Yamin dan Prof. Sopomo juga menyampaikan pidato tentang dasar negara, saat Indonesia merdeka nanti. Baik Mohamad Yamin maupun Supomo juga menyebut lima dasar untuk Indonesia merdeka.

Materi pidato Bung Karno, Mohamad Yamin, dan Supomo, itu selanjutnya dibawa ke sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Akhinya dalam sidang PPKI ketiga pemikiran ketiga tokoh tersebut digodok, dan akhirnya rumusan Pancasila seprti sekarang ini.

Tatit Heru Tahjono menyatakan, bahwa sudah sangat tepat jika pemerintah menetapkan 1 Juni sebagai hari kelahiran Pancasila. Karena memang, pada tanggal 1 Juni 1945, istilah Pancasila diperkenalkan Bung Karno, di depan sidang BPUPKI. “Kami PDIP konsisten dengan peristiwa sejarah. Maka dari itu, yang harus kita tanamkan dalam pandangan dan pemahaman rakyat Indonesia adalah Pancasila yang digali oleh Bung Karno yang disampikan dalam sidang BPUPKI maupun di sidang PPKI,” ujar Tatit, yang juga Ketua DPRD Nganjuk ini.

Menurut Tatit, Pancasila itu merupakan karya Bung Karno melalui proses perenungan yang sangat mendalam terhadap nilai-nilai dan norma yang berkembang dalam masyarakat di kepulauan nusantara. Nilai-nilai itulah yang kemudian dituangkan dalam Pancasila. Karena itu Pancasila ini merupakan jatidiri bangsa, pandangan hidup bangsa dan jiwa bangsa, tandas Tatit.

Sesuai ajaran Bung Karno, menurut Tatit, lima sila Pancasila bisa dipadatkan lagi menjadi tiga sila atau yang disebut Tri Sila. Yaitu sosio nasionalisme, sosio demokrasi dan Ketuhanan yang berkebudayaan. Dari tiga sila bisa dipadatkan lagi, menjadi eka sila, yaitu gotong royong.

“Saya saat ini kebetulan menjadi Ketua DPRD dan Ketua DPC PDIP Nganjuk. Yang saya tekankan kepada teman teman semua adalah pentingya gotong royong. Semangat gotong royong inilah yang saya terapkan dalam organisasi maupun di DPRD Nganjuk. Ini salah satu bentuk dari pengamalan Pancasila.” Ucap Tatit.

Apalagi saat ini, bangsa Indonesia mengalami musibah, tambah Tatit, semangat gotong royong harus terus digelorakan. Bahu membahu harus digalakan. Yang mampu harus membantu yang tidak mampu. Yang kuat harus membantu yang lemah. “Sifat – sifat inilah yang harus kita lakukan di tengah pandemi corona. Meski saat ini hidup di zaman globalisasi, sikap gotong royong harus kita laksanakan sebagai bentuk salah satu pengamalan Pancasila,” ujarnya.

Untuk lebih membumikan Pancasila dalam kehidupan masyarakat, menurut Tatit, bukan hanya tugas PDIP semata, sebagai partai yang mewarisi ajaran Bung Karno. Melainkan tugas seluruh anak bangsa. Karena, Pancasila sebagai jiwa dan pandangan hidup bangsa, sudah merupakan milik seluruh masyarakat Indonesia.

“Saya sudah mendorong agar pemerintah memberikan anggaran untuk kegiatan yang berkaitan dengan penanaman nilai-nilai Pancasila. Karena, pemerintah juga mempunyai kewajiban untuk terus melestarikan nilai-nilai Pancasila,” tegas Tatit. Bersambung……… (jo)

Check Also

Gerakan Pakai Masker, Ketua TP PKK dan Bupati Nganjuk Gelar Kunjungan Kerja

Pace, KabarNganjuk.com- Ditengah pandemi Covid-19 yang masih mewabah, Pemerintah Kabupaten Nganjuk terus berupaya untuk memutus mata …

2 comments

  1. Moh. Irmawan Jauhari

    Assalaamualaikum
    Om admin, jika ingin berkontribusi tulisan lewat mana ini?
    Terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *