Wednesday , January 20 2021
Home / Cerpen / Di Pondok “Darun Nafis”
https://iluszi.blogspot.com/

Di Pondok “Darun Nafis”

Hanya sekali senyumnya terlempar. Tak pernah sekali pun menyapa. Tetangganya sudah tidak mempedulikan lagi. Tidak ada lagi gurauan seperti yang sudah-sudah. Apa yang selama ini dipikirkan tiba-tiba terungkap. Masa lalunya memang tidak semanis yang dibayangkan oleh para tetangga kanan kirinya.

Lelaki bertubuh “kerempeng” itu sudah lama terjauh dari warga sekitar. Entah, apa sebab dia harus menanggung semua itu. Hari raya tinggal beberapa hari lagi. Kedatangannya membuat seluruh keluarga bersuka ria. Hidup hanya menunda kekalahan, sebelum pada akhirnya dia harus menyerah.

Ungkapan itu yang telah menjadi pedomannya selama ini. Meski jibril, mikail, isrofil, dan izroil selalu menyatu dalam menyambut diri tiap pagi hingga petang.Tuhan tetap sebagai pemenang nanti. “Kridhaning ati tan biso mbusek garising pesthi, Budi doyoning manungso tan biso ngungkuli garising Kang Kawoso”. Itu juga yang menjadi kekuatan dirinya selama dia mengabdi di pondok “Darun Nafis” di kota itu.

“Kematianku telah dekat, ijinkan aku tetap tersenyum untuk SEDIKIT amalku hingga NURUN ALA NURIN benar-benar membawaku MULIH KE JATI”, desahnya
“GUSTI, Sebelum MATI-ku, tunjukkan rahmad pertolongan-Mu untuk bisa merasa DIANGLIPUTI Nur-Mu bersama keluarga hingga hembusan nafas terakhirku….di hadapan keluarga NANTI”, suaranya lirih seolah sudah tahu ajalnya, malam itu.

Para anggota keluarga di kamar kecil berukuran 3×4 meter2 itu semua pada menunduk tak bisa berkata apa-apa. Angin berhenti. Tak ada satupun berani mengungkap kata-kata di pertemuan keramat itu. Semua diam membisu seribu bahasa.

Demikian kisah hidup lelaki yang selama ini menggodanya tiap hari selama dia bekerja di kantor Kas Negara Jember. Ungkap seorang gadis belia yang baru saja datang menghadap ibunya di rumah tua kampung sebelah. Dan pria itu pun terdengar menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang setelah ibunya menyetujui keinginan gadisnya, beberapa jam kemudian.

Tangis isakpun tiba-tiba memenuhi ruang pengap tempat ibu gadis belia itu. “Sabar ya anakku, mungkin sebentar lagi Tuhan akan mengirimkan jodohmu, lebih dari itu”, bisiknya lirih di dekat telinga anak gadisnya yang tampak amat mencintai pria itu.

 

(Gus Luken Sunarto, Mei 2020)

Check Also

Sepedaku

Kumisnya tebal, panjang, dan lebat. Matanya mencureng, saat kacamata hitamnya dibuka. Dengan sebuah pentungan hitam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *