Sunday , November 29 2020
Home / Cerpen / Di Klik Saja Mas

Di Klik Saja Mas

Sudah menjadi kebiasaan. Menjelang berangkat kerja, Dia masih ribut dengan pencarian masker yang tiap hari menemani kerjanya. Sebuah masker mungil warna hijau daun itu dicarinya ke kamar depan dan kamar belakang hingga tiga kali. Hampir setengah jam mencarinya, tapi tak ditemuinya. Hingga saat pencarian terakhirnya, seorang perempuan paruh baya membentaknya, “Bingung ae, arep janjian nang di maneh?”.

“Ndeleh masker bingung, nek janjian ae, gak bingung”, lanjutnya. Suara itu tidak begitu keras, namun memecahkan telinga bagai guntur di malam hari. Untuk tidak membuat gaduh selanjutnya, pria bertubuh kurus itu langsung buru-buru meninggalkan kamar depan. “Berangkat dulu Ma…”, pamit pria itu keburu-buru masuk dalam sebuah Calya merah menuju sekolahnya. Tidak lebih dari lima menit, pria itu sudah tiba di sekolahnya.

“Sudah ceklock Bapak”, beberapa teman menyambutnya dengan gembira. Maklum dia sudah 30 tahun mengajar, sehingga beberapa pengajar lainnya merasa perlu memberi rasa hormat padanya. Meski demikian, tidak serta merta pria itu berada di atas awan. “Maaf kawan-kawan, jangan perlakukan aku seperti itu,” sahutnya. “Aku ke sini masih ingin belajar banyak kepada teman-teman”, tambahnya. “Ojo ngono to Pak, njenengan ki wis super senior”, bantahnya. Sesaat setelah tanda tangan daftar hadir, pria kerempeng itu langsung menuju lab TIK. Ternyata di sana pria itu sudah ditunggu oleh kawan-kawan seusianya.

“Maaf Bu, aku terlambat”. katanya sambil menggabung mengikuti penjelasan sang asisten petugas TIK. Seorang perempuan manis yang selama ini membimbing guru-guru untuk mempelajari Imtera-1 mulai dari cara mengunggah tugas sampai dengan mengoreksi, lantas menilai sekali. Intinya, wis pokok e ngikuti petunjuk di situ. Lalu diklik saja.

Entah pura-pura lupa atau memang tidak bias, pria itu memberanikan diri untuk bertanya pada instruktur muda yang sudah lama menunggunya membantu memberikan nilai. “Ni caranya mengoreksi bagaimana Bu?”. “Sudah ada petunjuknya Pak”, lalu diklik. “Trus untuk menuliskan nilai, bagaiamana?” “Diklik saja Mas…eh…Pak” katanya instruktur muda yang sering mengumbar senyum pada teman-temannya itu. Maklum masih energik.

“Untuk keluarnya bagaimana Bu?”. “wis…. Pokok e diklik Pak”. “Untuk mematikan komputer bagaimana Bu”, ejeknya. “Diklik saja Pak.” Jawab perempuan muda itu seperti sedang ngambek, sebab tadi malam adalah malam Jumat yang terdiam. Baru sekitar pukul 05.00, ternyata suaminya baru datang. Kekecewaanya ditumpahkannya pada para guru yang minta dibina.

 

(Gus Luken Sunarto)

Check Also

Di Pondok “Darun Nafis”

Hanya sekali senyumnya terlempar. Tak pernah sekali pun menyapa. Tetangganya sudah tidak mempedulikan lagi. Tidak …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *