Wednesday , October 21 2020
Home / Pendidikan / Belajar di Sekolah Pada Era New Normal Bisa Jadi Lebih Aman
Sunarto, M.Pd

Belajar di Sekolah Pada Era New Normal Bisa Jadi Lebih Aman

Nganjuk, KabarNganjuk.com- Menyambut awal masuk sekolah di tahun pelajaran baru (2020/2021), kiranya perlu berfikir lebih jernih. Seluruh sekolah dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas, tahun pelajaran baru dimulai pada tanggal 13 Juli 2020. Hal ini akan menuai berbagai pendapat yang kontroversi.

Satu pihak beranggapan bila sekolah masuk seperti biasa akan mudah timbulnya kluster baru dampak Covid — 19. Namun di pihak lain juga akan berpendapat bahwa dengan masuknya siswa kembali pada masa “New Normal” justru akan bisa memutus rantai penyebaran Covid — 19 seperti yang selama ini di berbagai daerah. Sehubungan dengan ini, perlu kiranya pemahaman lanjut tentang bagaimana keuntungan dan kelemahan bila siswa harus belajar di rumah terus.

Sekolah adalah komunitas
Seperti diketahui bersama, sekolah adalah juga tempat anak-anak bermain. Sebagian besar orang tua juga percaya bahwa pembelajaran di sekolah lebih aman dari belajar di rumah.

“Kami gak sanggup mengontrol dan mengawasi mereka. Kami akan tenang kalau anak-anak bisa damai di sekolahnya. Kami takut corona, tapi anak-anak enak saja keluar dengan mengatakan tidak apa-apa. Allah SWT sayang hamba-Nya”. Itulah curhatan para orang tua. Kita bisa saksikan, anak bermain bebas di mana-mana tanpa pengawalan.

Kebut-kebutan di jalanan dengan teman sesekolahan ataupun geng-gengan. Merata, mereka akan jawab sudah bosan di rumah diam. Sementara yang usia SD/TK mereka bermain bebas, delikan atau pun jumpritan, ditinggal orang tua kerja. Hanya di rumah 14 hari, lha ini sudah tiga bulan. Mereka memahami hasil sosialisasi, 14 hari harus isolasi.
Lihat mereka sekarang, rambut pun berubah warna. Lihat potongan rambutnya, gaya pakaiannya, ataupun penampilannya.

Tidak bersisa apa yang didapat dari sekolah atau pun madrasahnya. “Aduh, Pak. Sekolah masuk ajalah,” kata sebagian besar wali murid. Nah, jika sudah demikian, bagaimana sekolah akan berbuat lebih jauh untuk memutus rantai penyebaran Covid — 19 ini? Bisakah diharapkan mereka memutus rantai penyebaran Covid-19? Tentu itu sulit diharapkan. Apalagi, informasi dan kebijakan yang simpang siur memasuki jagat pemikiran anak melalui medsos.

Dengan kesimpulan sederhana mereka ambil. “Alah, yang penting happy.” Namun, kita bisa saksikan realitas di lapangan. Anak-anak kita bergerombol dan keluyuran gak karuan. Sementara, informasi yang diterima tidak bisa dikendalikan dan berasal dari sumber yang tidak jelas.
Di sekolah bisa terkontrol

Ponpes sudah mulai kegiatannya sekitar 20-an hari setelah idul Fitri. Kita sudah tahu dari dulu, Pondok pesantren memang menjadi isolasi digdaya terhadap permasalahan anak-anak kita. Kenakalan remaja, efek negatif dari pesatnya kemajuan teknologi informasi, pergaulan bebas, dan sebagainya. Sekarang, ada tambahan satu masalah yang menghantui seluruh jagad raya ini. Covid-19. Pondok pesantren bisa menjadi isolasi besar terhadap pemutusan rantai penyebaran Covid-19.

Resiko memang ada, tetapi resiko jauh lebih besar mereka yang bebas berkeliaran di luaran sana. Resiko akan semakin bisa diminimalisir dengan protokol ketat di Pondok Pesantren. Nah, bagaimana dengan sekolah-sekolah umum kita saat ini. Kalau selama ini kt menggunakan sudut pandang bahwa sekolah adalah komunitas anak dalam jumlah besar sehingga rentan terjadi kluster baru dalam dunia pendidikan.

Bagaimana kalau kemudian kita menggunakan sudut pandang yang berbeda. Kita balik 180 derajat.? Anak-anak di sekolah lebih bisa dikontrol daripada berkeliaran ke mana-mana yang tidak jelas itu. Anak-anak di sekolah bisa mendapatkan informasi yang lebih bisa dipertanggung-jawabkan daripada mereka mendapatkan di luar sana. Informasi yang tidak yakin bisa anak-anak pilah mana yang benar dan hoax.

Yang penting informasi jelas panduan yang lengkap dan implementatif. Juga kedisiplinan yang tinggi, inshaaallah akan bisa menghindarkan diri dari kluster penyebaran juga bisa memutus mata rantai penularan Covid-19. Kondisi ini sekaligus bisa kita jadikan momentum untuk mendisiplinkan diri kita juga anak-anak kita.

Sekolah ataupun lembaga pendidikan harus bisa menghadirkan solusi sekaligus solutor dari semakin binalnya penyebaran Covid-19. Bukan malah berada di belakang penyebaran untuk membenarkan diri untuk tidak ada aksi. Di sekolah bisa kondisikan. Yang harus juga kita pikirkan adalah ketika mereka menuju dan meninggalkan sekolah. Kemungkinan mereka bergerombol, mereka mampir ke sesuatu tempat secara bersama, saat mereka dalam angkutan, dsb. Ini juga ada potensi penularan.Kalau itu terjadi, bisa dituduhkan bahwa itu akibat sekolah dibuka.

Belajar di sekolah sesuai protokol kesehatan
Di sinilah, sekolah harus mulai berani menghadapi tantangan. Survive mendekati anak untuk bisa memberikan informasi yang bertanggung jawab. Kontrol bisa dilakukan. Dengan demikian penyebaran Covid-19 bisa dikendalikan. Peran trisula penanggung jawab pendidikan mulai harus digarap serius. Sekolah tidak lagi bisa tidak bersinggungan dengan kondisi sekitar sekolah. Sekolah, masyarakat, dan orang tua bersama perangi Covid-19.

Perangi secara terkoordinasi. Yang nggak enak itu kalau sekolah dijadikan tuduhan sumber munculnya kluster baru. Itu bisa dilakukan setelah atau harus persetujuan pemda, gugus tugas covid-19, dan ortu siswa. Sehingga, semua bertanggung jawab apabila terjadi kluster baru. Kita mengedepankan ketidakenakan dibanding peran yang bisa diambil oleh sekolah dalam menyelamatkan generasi negeri ini.

Sekolah sebagai agen perubahan tidak akan pernah bisa terwujud kalau batas-batas tidak enak selalu membelenggu kita. Tidak hanya Covid-19. Ketika situasi politik muncul. Baik pilkada atau yang lain.

Pada akhirnya, sekolah harus memberanikan diri untuk tetap bisa belajar di sekolah sesuai dengan anjuran protokol kesehatan. Karena pesan atau wanti-wanti Pak Menteri bahwa saat ini yang diutamakn adalah keselamatan dan kesehatan siswa, guru, dan keluarganya tentunya.

Karena itu, setiap hari siswa harus selalu diingatkan dan dikondisikan untuk mematuhi aturan kesehatan, dengan melaksanakan keempat hal berikut: (1) selalu pakai masker; (2) sering cuci tangan pakai sabun; (3) tidak bersalaman atau bersinggungan; dan (4) tidak bergerombol. Dengan mengikuti anjuran protocol kesehatan diharapkan semua kekhawatiran tersebut bisa teratasi. Siswa bisa belajar dengan nyaman di sekolah, orang tua bisa merasa puas atas prilaku siswanya; dan Covid — 19 bisa terputus. Semoga kondisi ini segera tercipta di wilayah Indonesia kita tercinta. (*Sun)

Opini Oleh : SUNARTO, M.Pd.
(Pengurus Komnasdik Kabupaten Nganjuk)

Check Also

Tahun Ajaran Baru 2020-2021, MPLS Dilakukan Secara Online

Nganjuk, KabarNganjuk.com- Ditengah pandemi Covid-19 membuat para pelajar harus melakukan segala pembelajaran secara online, apalagi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *